
indonesiaforward.net — Penguatan struktur fiskal menjadi prioritas utama pemerintah guna merespons dinamika penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings terkait profil kredit nasional.
Dalam tinjauan terbaru, S&P menekankan pentingnya menjaga rasio pembayaran bunga utang agar tetap terkendali. Meskipun Indonesia memiliki rasio utang terhadap PDB yang sehat di angka 40%, peningkatan efektivitas pendapatan negara menjadi metrik krusial untuk memastikan beban bunga tetap berada di bawah ambang batas 15% dari total penerimaan.
“Dua perkembangan yang kami pantau dengan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah dan perkembangan pendapatan,” kata Rain Yin, analis S&P Global Ratings pada Jumat (27/2/2026).
Transformasi Belanja untuk Nilai Tambah Ekonomi
Pemerintah saat ini tengah mengakselerasi program-program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi Rp 335 triliun untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Meski program ini memberikan tekanan jangka pendek pada defisit yang mencapai 2,92%, optimisme tetap terjaga melalui upaya intensifikasi pajak dan reformasi tata kelola keuangan yang lebih akuntabel.
Di tengah tantangan ini, data perdagangan menunjukkan daya tahan pasar modal kita. Walaupun IHSG sempat terkoreksi ke level 8.168 pada pembukaan Jumat (27/2/2026), pasar kembali bergairah dengan nilai transaksi mencapai Rp 38,24 triliun dan ditutup menguat di posisi 8.235. Ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid.
Menjaga Momentum Pertumbuhan 2026
Untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah inflasi, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit tetap dalam koridor yang sehat sembari mendorong pertumbuhan kredit yang lebih ekspansif melampaui angka 7% tahun lalu.
Peringatan dari lembaga internasional dipandang sebagai masukan konstruktif untuk mempertajam arah kebijakan publik. Dengan fokus pada pembangunan aset produktif dan penguatan basis pendapatan, Indonesia diprediksi mampu menavigasi risiko cost of fund dan menjaga momentum pertumbuhan menuju visi Indonesia Maju. ***
