
indonesiaforward.net — Presiden Iran Masoud Pezeshkian merilis dokumen surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat pada Rabu, 1 April 2026, yang berisi kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Washington.
Laporan ini muncul di tengah eskalasi operasi militer “Operation Epic Fury” yang telah mengakibatkan 3,2 juta warga sipil Iran terpaksa mengungsi sejak akhir Februari.
Pezeshkian menyoroti kegagalan diplomasi setelah Amerika Serikat secara sepihak meninggalkan meja perundingan nuklir, meskipun Iran telah memenuhi seluruh komitmen teknisnya.
Ia menilai keputusan tersebut merupakan pilihan kebijakan yang destruktif karena lebih melayani delusi agresor asing daripada kepentingan nasional rakyat Amerika.
Presiden Iran yang menjabat sejak 2024 ini menuding pemerintah Donald Trump telah terjebak dalam skenario perang proksi demi melayani agenda keamanan Israel.
Dalam perspektif kebijakan publik, ia mempertanyakan apakah alokasi dana pembayar pajak AS saat ini benar-benar mencerminkan prioritas slogan “America First”.
“Bukankah sudah jelas bahwa Israel sekarang bertujuan untuk berperang melawan Iran hingga tentara Amerika terakhir dan dolar pembayar pajak Amerika terakhir?” — tulis Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melalui platform X, 1 April 2026.
Analisis Dampak Sosial dan Krisis Kemanusiaan
Data terverifikasi menunjukkan bahwa agresi militer ini telah menewaskan lebih dari 1.500 warga sipil, termasuk laporan penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker.
Pezeshkian mengajak publik AS untuk melakukan validasi independen terhadap informasi yang mereka terima melalui mesin misinformasi pemerintah saat ini.
Ia menekankan bahwa Iran tidak pernah memilih jalur agresi atau kolonialisme dalam sejarah modernnya, meskipun memiliki kapasitas militer yang kompetitif di kawasan.
Narasi ini sengaja disusun untuk menekan opini publik AS yang saat ini hanya mencatat 33 persen tingkat persetujuan terhadap aksi militer di Timur Tengah.
Respons Kebijakan dan Tekanan Domestik AS
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan kontradiktif melalui Truth Social dengan mengeklaim bahwa rezim Iran telah memohon gencatan senjata.
Klaim tersebut segera dibantah oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang menyatakan bahwa informasi tersebut sepenuhnya palsu dan tidak berdasar.
Trump dalam pidato nasionalnya menyatakan bahwa tujuan strategis inti hampir tercapai dan pasukan Amerika Serikat akan segera ditarik keluar dalam waktu dekat.
Namun, tantangan domestik kian nyata bagi Washington seiring lonjakan harga bensin nasional yang kini menetap di angka 4 dolar per galon akibat blokade energi. ***
