Minggu, Juli 26News That Matters

Evaluasi Kebijakan Pertahanan: Dampak Serangan Israel Terhadap Stabilitas Arab

indonesiaforward.net — Pemerintah Israel memperluas operasi militernya ke wilayah Yaman pada 10 September 2025, menewaskan 35 warga dan melukai 131 orang di Sana’a serta Al-Jawf.

Serangan udara ini menyasar fasilitas medis dan kompleks pemerintahan di al-Hazm sebagai respons atas gangguan drone Houthi terhadap objek vital Bandara Ramon di Israel.

Langkah ofensif ini menyusul berakhirnya perang 12 hari melawan Iran pada Juni 2025 yang telah melumpuhkan sejumlah fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordow.

“IAF menyerang target militer milik rezim teroris Houthi di wilayah Sanaa dan Al-Jawf di Yaman,” tulis pernyataan resmi Militer Israel pada 10 September 2025.

Krisisi Kemanusiaan Global dan Eskalasi di Gaza

Data terbaru menunjukkan angka kematian di Jalur Gaza telah menembus 71.400 jiwa per Januari 2026, dengan proporsi korban anak-anak mencapai lebih dari 20.000 orang.

Kondisi ini diperparah dengan serangan udara intensif di Lebanon yang mencatat 1.268 korban tewas dan 3.750 luka-luka dalam periode Maret 2026 menurut laporan resmi WHO.

Baca Juga :  Pelanggaran Protokol Militer Israel di Lebanon Ciderai Gencatan Senjata

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi aktivasi sistem pertahanan udara guna menghalau formasi tempur Israel yang memasuki wilayah kedaulatan Yaman secara ilegal.

“Pertahanan udara kami berhasil meluncurkan sejumlah rudal darat-ke-udara saat menghadapi agresi Zionis,” ujar Yahya Saree melalui media Al Masirah pada September 2025.

Dampak Kebijakan Energi dan Ekonomi Regional

Eskalasi konflik memicu keputusan parlemen Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang mengangkut 20 persen pasokan minyak dan gas LNG dunia.

Harga minyak Brent melonjak tajam sebesar 11,66 persen dalam satu sesi perdagangan, memberikan tekanan inflasi yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi negara-negara berkembang.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan komitmen Israel untuk terus menekan simpul-simpul kekuatan lawan demi menjamin keamanan warga negaranya dari ancaman eksternal.

“Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menghajar mereka. Serangan ini tidak melemahkan tangan kami,” tulis Netanyahu melalui pernyataan resminya pada akhir 2025.

Operasi militer ini menyebabkan 3,2 juta warga di Iran mengungsi serta mengakibatkan kerugian ekonomi digital sebesar 37 juta dolar AS per hari akibat gangguan konektivitas di kawasan konflik. ***

Baca Juga :  Implikasi Kebijakan Hubungan Internasional Pasca-Ancaman Terbuka Iran