Rabu, Juni 3News That Matters

Langkah Strategis BCA: Realisasi Buyback Rp5 Triliun di Tengah Volatilitas IHSG

indonesiaforward.net — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara resmi mengumumkan dimulainya realisasi pembelian kembali saham atau buyback dengan alokasi dana maksimal Rp5 triliun pada Selasa, 28 April 2026.

Aksi korporasi ini dilakukan berdasarkan mandat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 dan diatur sesuai regulasi terbaru dalam POJK Nomor 29 Tahun 2023.

Langkah ini dipandang sebagai instrumen kebijakan emiten dalam meredam volatilitas pasar modal, terutama setelah IHSG sempat mengalami tekanan jual signifikan yang memicu intervensi otoritas bursa.

BCA menargetkan periode pelaksanaan buyback hingga 11 Maret 2027 melalui mekanisme pasar reguler di Bursa Efek Indonesia dengan menggandeng PT BCA Sekuritas sebagai pelaksana teknis.

Dalam laporan kebijakan publiknya, manajemen BCA memastikan bahwa penggunaan dana sebesar Rp5 triliun untuk buyback tidak akan mengganggu rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR).

Hingga akhir 2025, CAR BCA tercatat sangat kuat pada level 30,36 persen, yang menunjukkan kapasitas perusahaan dalam menyerap risiko pasar tanpa mengorbankan likuiditas operasional.

Baca Juga :  Kampung Haji Permanen Jadi Fondasi Baru Layanan Haji Indonesia

“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan wujud keyakinan kami atas fundamental bisnis perseroan,” tegas Presiden Direktur BCA Hendra Lembong pada Rabu, 29 April 2026.

Laba bersih perseroan yang mencapai Rp57,5 triliun di tahun 2025 menjadi landasan fiskal yang memadai bagi perusahaan untuk melakukan stabilisasi harga saham secara mandiri.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong emiten berkapitalisasi besar seperti BBCA untuk melakukan buyback guna memberikan kepastian bagi investor domestik maupun internasional.

Data menunjukkan bahwa saham hasil buyback sebelumnya (Mei 2025) tetap disimpan sebagai saham treasuri, sebuah langkah yang jarang dilakukan namun efektif untuk menjaga suplai saham di pasar.

Analisis data kuartal I 2026 menunjukkan laba bersih BCA tetap tumbuh mencapai Rp14,68 triliun, memperkuat justifikasi bahwa kondisi fundamental bank swasta terbesar ini berada dalam tren progresif.

Intervensi ini diharapkan menjadi model bagi tata kelola perusahaan terbuka dalam mengelola sentimen negatif pasar melalui aksi nyata yang terukur secara data dan regulasi.

Baca Juga :  Kasus Timothy Ronald: Dari Akademi Crypto hingga Laporan Polisi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kepatuhan terhadap prinsip Good Corporate Governance (GCG) menjadi kunci utama bagi BCA dalam menjalankan program ini demi kepentingan jangka panjang ekosistem pasar modal Indonesia. ***