
indonesiaforward.net — Data resmi mengonfirmasi berpulangnya Prof. Juwono Sudarsono, Ph.D., tokoh intelektual dan birokrat yang menjabat menteri di bawah empat kepemimpinan presiden Indonesia yang berbeda.
Mantan Menteri Pertahanan tersebut dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Sosok kelahiran Ciamis, 5 Maret 1942 ini mengembuskan napas terakhir pada usia 84 tahun, setelah memberikan kontribusi signifikan dalam transformasi kebijakan pertahanan dan pendidikan nasional.
“Betul, Bapak Juwono Sudarsono beliau telah meninggal dunia,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Humas Setjen Kementerian Pertahanan RI, saat memberikan konfirmasi resmi pada Sabtu (28/3/2026).
Juwono Sudarsono tercatat sebagai warga sipil pertama yang memegang jabatan Menteri Pertahanan sejak 1959. Data kariernya menunjukkan fleksibilitas kepemimpinan mulai dari Menteri Negara Lingkungan Hidup (1997-1998), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1998-1999), hingga Menteri Pertahanan dalam dua periode berbeda (1999-2000 dan 2004-2009).
Penghormatan Kenegaraan dan Rencana Pemakaman
Pemerintah menjadwalkan prosesi pemakaman almarhum pada Minggu, 29 Maret 2026, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Prosesi ini akan dilangsungkan dengan penghormatan kenegaraan penuh sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi almarhum dalam memperkuat profesionalisme militer dan supremasi sipil pasca-reformasi.
Sebagai akademisi, Juwono juga menjabat sebagai Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia dan pernah menjadi Dekan FISIP UI periode 1988–1994. Di tingkat global, ia memperkuat posisi diplomatik Indonesia saat menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Britania Raya pada periode 2003–2004.
Kontribusi Strategis dalam Modernisasi Pertahanan
Rekam jejak Juwono menonjol dalam upayanya melakukan modernisasi alutsista yang transparan serta mengurangi politisasi di tubuh militer. Kebijakan-kebijakannya di era Presiden Gus Dur dan SBY dipandang sebagai titik balik penting dalam menciptakan postur pertahanan Indonesia yang lebih akuntabel dan disegani secara internasional.
Kepergian sosok yang pernah menjadi guru besar tamu di Columbia University ini meninggalkan warisan standar tinggi bagi integrasi antara dunia akademik dan kebijakan publik. Bangsa Indonesia melepas figur teknokrat yang konsisten mengedepankan data, kejernihan nalar, dan integritas dalam setiap keputusan strategis negara.***
