Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menuding kelompok kejahatan siber Hacker Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas pencurian aset virtual senilai rekor US$ 6,3 miliar atau sekitar Rp 114 triliun dari bursa kripto Binance. Aset hasil curian itu diduga dicuci melalui konversi ke mata uang Ethereum.
Pernyataan FBI dirilis pada Sabtu. Badan penyidik AS itu mencatat bahwa pelaku dari Korea Utara terpantau mengubah aset curian, terutama ke Ethereum, sebagai bagian dari proses pencucian uang. Aset tersebut diperkirakan akan kembali beredar secara bertahap.
TraderTraitor sebelumnya juga dituduh FBI sebagai dalang pencurian US$ 1,5 miliar dari platform Bybit pada Februari tahun lalu. Kali ini, FBI secara khusus meminta penyedia layanan aset virtual untuk memblokir transaksi yang terkait dengan operasi pencucian uang terbaru. FBI turut menyertakan daftar alamat digital yang diduga digunakan dalam aktivitas tersebut.
Sementara itu, Binance menyatakan pada Sabtu (31/10/2026) telah mengganti 90 persen aset yang dicuri dengan dana perusahaan. Sisa 10 persen berupa token dengan likuiditas lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli kembali. Perusahaan menegaskan akan terus membeli sisa token hingga seluruh kerugian tertutup 100 persen.
"Kami akan terus membeli sisa aset token terkait hingga jumlah yang ditanggung mencapai 100% untuk seluruh token. Binance akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami," tulis Binance melalui platform X.
Dana untuk pembelian kembali token berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$1 miliar, yang merupakan dana cadangan Bitcoin milik Binance untuk melindungi nasabah. Sebagian juga diambil dari Futures Insurance Fund dan kas perusahaan.
Harga mata uang kripto sempat turun pada Jumat, saat Binance berupaya meyakinkan nasabah bahwa dana mereka aman. Co-CEO Binance Richard Teng menjelaskan bahwa pembobolan itu merupakan serangan kompleks. Pelaku memakai laptop yang sudah disusupi dan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus jejak, sehingga sulit dilacak.
Setelah peretasan, bursa menghentikan sementara layanan penarikan dana nasabah. Binance kemudian mengumumkan pada Sabtu bahwa proses pembukaan kembali layanan penarikan berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan tersedia lagi pada Minggu. Bursa juga menerbitkan laporan proof of reserves terbaru agar pengguna bisa memverifikasi sendiri bahwa aset mereka didukung cadangan dengan rasio minimal 1:1.