Sabtu, September 12News That Matters

Evaluasi Kebijakan Kebudayaan dari Pentas Teater Cara Menjadi Sederhana

IndonesiaForward.net — Pagelaran teater bertajuk “Cara Menjadi Sederhana” sukses digelar di Ngaos Art Tasikmalaya pada 21 Agustus 2026 sebagai ruang uji coba kebijakan seni.

Pementasan ini menjadi indikator penting untuk mengukur indeks partisipasi pemerintah daerah dan akademisi dalam pembangunan ekosistem kebudayaan lokal.

Analisis Kebijakan Prosedural dan Otonomi Publik

Pertunjukan ini mengkritik secara tajam kecenderungan masyarakat kontemporer yang menjadikan prosedur serta regulasi sebagai tujuan utama kehidupan.

Pemerhati kebudayaan Dr. Rahman Sabur menekankan bahaya pembatasan kehendak akibat kepatuhan buta terhadap prosedur terlembaga.

“Absurditas dalam Cara Menjadi Sederhana bekerja sebagai epistemologi tubuh. Slobodon dan Anteh bukan manusia yang kehilangan akal, tetapi manusia yang terlalu patuh kepada akal yang telah dilembagakan.” papar Rahman Sabur pada 21 Agustus 2026.

Peneliti akademis Arif, S.Pd., M.Sn., menjelaskan bahwa over-regulasi dalam kehidupan sehari-hari telah merenggut kemandirian warga negara.

“Kesederhanaan di dalam karya ini bukan kategori estetika, melainkan problem eksistensial.” tutur Arif pada 21 Agustus 2026.

Praktisi seni Wit Jabo menambahkan bahwa ketidakhadiran alat prosedur dasar justru menjadi alat kontrol imaterial yang mengendalikan tubuh.

Baca Juga :  FTDI 2026 Dorong Reformasi Kurikulum Seni Pertunjukan Berbasis Riset

“Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya.” jelas Wit Jabo pada 21 Agustus 2026.

Catatan Evaluasi Tata Kelola Seni Pertunjukan Daerah

Analis kebijakan Aris Sehat Tentrem menilai bahwa reformasi mentalitas dan efisiensi aturan merupakan kunci keberlanjutan bangsa.

“Nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian.” tegas Aris Sehat Tentrem pada 21 Agustus 2026.

Pengamat sosial Moa Aziz turut mengingatkan risiko kebiasaan menunda pemenuhan hak dan kewajiban di tingkat publik.

“Kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik.” kata Moa Aziz pada 21 Agustus 2026.

Acara ini tidak dihadiri perwakilan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya maupun Pemerintah Kota Tasikmalaya meski karya ini berpotensi membawa nama daerah.

Rombongan produksi ini dijadwalkan menuju Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta pada 26–28 Agustus 2026 membawa advokasi seni daerah.

***