
indonesiaforward.net – Sebulan setelah banjir Sumatera, bantuan korban banjir tidak lagi berada di fase darurat. Fokus kini bergeser ke pemulihan kesehatan, kondisi mental, dan kepastian hunian warga terdampak.
Air memang telah surut di banyak titik. Namun, bagi warga terdampak banjir Sumatera, ujian belum benar-benar usai. Yang menarik, justru setelah fase darurat berakhir, kebutuhan warga berubah arah dan menjadi lebih kompleks.
Dalam sudut pandang warga di pengungsian, tantangan kini tidak lagi soal makanan harian. Dalam realitas di lapangan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta pemulihan psikologis menjadi kebutuhan utama yang tak bisa ditunda.
Kebutuhan yang Berubah, Tantangan yang Bertambah
Human Initiative mencatat Aceh Tamiang masih menghadapi kebutuhan pascabencana yang mendesak. Pimpinan Human Initiative, Ferdiansyah, menegaskan, “Kebutuhan korban masih banyak yang mendesak, seperti perlengkapan kebersihan, selimut, matras, kasur, serta layanan kesehatan dan dukungan psikososial bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.”
Yang kerap luput diperhatikan, dukungan psikososial bukan sekadar pendampingan sementara. Di lapangan, anak-anak dan lansia memerlukan proses pemulihan yang berjalan bertahap, seiring trauma yang belum sepenuhnya pulih.
Kolaborasi dan Peran Layanan Kesehatan
Pada saat bersamaan, berbagai pihak mulai menyesuaikan bentuk bantuan. ParagonCorp bersama sejumlah mitra kemanusiaan menyalurkan dukungan lanjutan yang lebih relevan dengan kondisi pascabencana.

Director of Corporate Affairs ParagonCorp, Astri Wahyuni, menjelaskan bahwa bantuan bertahap menjadi bagian penting pemulihan masyarakat. Efek langsungnya, layanan kesehatan mendapat perhatian khusus.
Salah satu langkah krusial ialah penyaluran genset 250 kVA ke RSUD Langsa. Rumah sakit ini menjadi rujukan bagi Aceh Tamiang hingga Aceh Timur. Dalam praktiknya, pasokan listrik yang stabil memastikan layanan medis tetap berjalan di tengah keterbatasan infrastruktur.
Ketika Negara Masuk ke Tahap Struktural
Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong pengurangan pengungsian. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, “Kami merasa ini sangat penting. Ini merupakan simbol percepatan pemulihan.”
BNPB mencatat puluhan ribu rumah rusak dengan kategori ringan hingga berat. Artinya begini, skema kompensasi Rp15 juta, Rp30 juta, hingga Rp60 juta menjadi pintu awal agar warga bisa meninggalkan tenda.
Kementerian Sosial melengkapi langkah tersebut dengan bantuan dana berlapis, dari santunan hingga pemulihan ekonomi. Gambaran besarnya, banjir Sumatera kini berada di fase paling menentukan: apakah pemulihan benar-benar menyentuh kehidupan warga, atau berhenti pada data dan laporan semata.
