Minggu, April 19News That Matters

Tag: Deforestasi

Busyro Dorong Reformasi Politik untuk Akhiri Krisis Ekologi

Busyro Dorong Reformasi Politik untuk Akhiri Krisis Ekologi

Nasional
IndonesiaForward.net — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Busyro Muqoddas, menilai pembaruan sistem politik menjadi kunci mengakhiri siklus korupsi sumber daya alam (SDA) dan krisis ekologis di Indonesia. Dalam konferensi pers di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (19/12/2025), Busyro menyatakan bahwa kebijakan pembangunan yang mengabaikan lingkungan berakar pada desain politik yang bermasalah. “Bencana kemanusiaan hari ini merupakan hasil dari keputusan politik yang mengabaikan daya dukung lingkungan,” ujar Busyro. Ia menegaskan bahwa wilayah kaya SDA justru paling terdampak akibat kebijakan ekstraktif yang tidak berkelanjutan. Reformasi Regulasi Politik Busyro mendorong revisi Undang-Undang Partai Politik, Pemilu, dan Pilkada sebagai prasyarat memperbaiki tata kelola su...
Sawit Papua dalam Agenda Energi Nasional

Sawit Papua dalam Agenda Energi Nasional

Nasional
IndonesiaForward.net — Pemerintah menempatkan pengembangan sawit di Papua sebagai bagian dari agenda ketahanan energi nasional, namun kebijakan ini memicu perdebatan serius terkait dampak ekologis dan sosial. Dalam Rapat Percepatan Pembangunan Papua, Senin (16/12/2025), Presiden Prabowo Subianto menyatakan Papua memiliki lahan luas untuk sawit, tebu, dan singkong guna mendukung produksi energi alternatif. “Kita harus berani mandiri,” ujar Prabowo, menegaskan perlunya mengurangi ketergantungan impor energi. Wacana ini kembali mengemuka setelah publik mengaitkannya dengan pernyataan Prabowo pada Musrenbangnas RPJMN 2025–2029, 30 Desember 2024, ketika ia mengatakan, “Jangan takut dengan deforestasi.” Aktivis lingkungan menilai pendekatan tersebut berisiko mempercepat pembukaan hutan di Pa...
Inlander dan Tantangan Ekologi Indonesia ke Depan

Inlander dan Tantangan Ekologi Indonesia ke Depan

Ragam
IndonesiaForward.net — Warisan istilah “inlander” yang diperkenalkan penjajah Belanda sejak abad ke-19 masih memengaruhi cara negara mengelola ruang hidup. Para sejarawan menilai konstruksi inferioritas itu berulang dalam kebijakan modern yang mendorong ekspansi tambang, deforestasi, dan kerentanan ekologis. Data dan Peringatan Para Peneliti Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung menyebut tekanan industri ekstraktif sudah mencapai fase genting. “Kerusakan lingkungannya sangat menghancurkan. Deforestasi meningkat signifikan… sungai tercemar, mangrove ditebang, daerah pesisir dan terumbu karang rusak,” ujarnya. Aktivis lingkungan Rudi Putra menilai pola ini melemahkan kapasitas ekologis jangka panjang. “Pembalakan liar dan pembukaan kawasan ekosistem terancam adalah ancaman serius,” kata...
Data Baru Ungkap Deforestasi Kalimantan–Papua Kian Mendesak untuk Ditangani

Data Baru Ungkap Deforestasi Kalimantan–Papua Kian Mendesak untuk Ditangani

Nasional
IndonesiaForward.net — Banjir bandang 2025 di Aceh, Sumut, dan Sumbar—yang menewaskan 744 warga dan mengungsikan lebih dari 1,1 juta jiwa—menjadi preseden kuat bahwa Indonesia menghadapi ancaman ekologis lintas pulau. Data terbaru menunjukkan deforestasi Kalimantan, Papua, dan Sulawesi meningkat dan memasuki fase kritis. FWI dan Auriga Nusantara mencatat deforestasi nasional mencapai 257.384 hektare pada 2023, naik dari 230.760 hektare pada 2022. Kalimantan menjadi kontributor terbesar. Papua mengalami degradasi luas sejak 1990, sementara Sulawesi mencatat deforestasi puluhan ribu hektare antara 2021–2024. Risiko meningkat di kawasan hulu DAS Peneliti Hidrologi UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa banjir bandang Sumatera memperlihatkan hubungan langsung antara deforestasi dan daya...
UGM: Hilangnya Tutupan Hutan Jadi Faktor Penentu Banjir Bandang Sumatera

UGM: Hilangnya Tutupan Hutan Jadi Faktor Penentu Banjir Bandang Sumatera

Nasional
IndonesiaForward.net — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menggarisbawahi bahwa deforestasi besar-besaran menjadi faktor penentu banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Dalam keterangan resmi, Rabu (3/12/2025), ia menjelaskan bahwa kemampuan hutan menyerap dan menahan air menurun tajam setelah puluhan tahun tekanan pembukaan lahan. Menurut Hatma, degradasi ekologis itu terlihat konsisten di tiga provinsi. Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan sejak 1990. Sumatera Utara tinggal memiliki sekitar 29 persen tutupan hutan pada 2020. Sumatera Barat kehilangan lebih dari 740 ribu hektare dalam dua dekade terakhir. Ketika bentang alam kehilangan kapasitas hidrologis, hujan ekstrem yang dipicu dinami...
Zulhas Jelaskan Konteks Kebijakan Lahan dan Tantangan Ekologi Nasional

Zulhas Jelaskan Konteks Kebijakan Lahan dan Tantangan Ekologi Nasional

Nasional
IndonesiaForward.net — Mantan Menteri Kehutanan 2009–2014, Zulkifli Hasan, meluruskan tudingan bahwa kebijakannya menjadi pemicu banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Klarifikasi itu ia sampaikan dalam podcast CURHAT BANG dan dikutip Rabu (3/12/2025). “Kalau saya dikatakan Indonesia rusak karena Zulkifli Hasan, saya tersanjung,” katanya. Ia menilai persoalan lingkungan harus dinilai berdasarkan data dan struktur kebijakan, bukan pada salah satu aktor saja. Zulhas menjelaskan bahwa pembukaan lahan pada masa itu merupakan bagian dari strategi ketahanan pangan. Indonesia, yang menghadapi tekanan impor, membutuhkan peningkatan kapasitas produksi. Ia menilai pemerintah harus menimbang konservasi dan kebutuhan pangan secara simultan. Analisis Lapangan dan Tantangan Pengelolaan Men...
Ahli Lingkungan Tantang Klaim Sawit Bukan Penyebab Deforestasi Usai Banjir Sumatera

Ahli Lingkungan Tantang Klaim Sawit Bukan Penyebab Deforestasi Usai Banjir Sumatera

Nasional
IndonesiaForward.net — Banjir besar yang melanda wilayah Sumatera Bagian Utara pada akhir November 2025 membawa kembali perdebatan soal deforestasi. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Musrenbang 30 Desember 2024, “Namanya kelapa sawit ya pohon” menuai tanggapan keras dari para ahli. Wong Ee Lynn, penulis untuk National Geographic Indonesia, menyampaikan bahwa hutan alam berfungsi sebagai ekosistem kompleks dengan keragaman hayati yang tidak bisa digantikan oleh monokultur sawit. “Perkebunan monokultur harus memakai herbisida, insektisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar,” tulisnya. Ia menilai hal itu merusak struktur tanah dan memperburuk kualitas ekosistem. Erosi, menurut Lynn, meningkat saat tanaman penutup hilang. Lapisan organik tanah tidak lagi menahan air, membuat huj...