Sabtu, Juni 6News That Matters

Shiddiqiyyah sebagai Modal Sosial Spiritual Bangsa

IndonesiaForward.net—Jejak Thoriqoh Shiddiqiyyah menunjukkan bagaimana nilai spiritual dapat berfungsi sebagai modal sosial dalam membangun masyarakat. Berakar pada peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW, ajaran ini menempatkan kejujuran sebagai fondasi iman sekaligus basis perilaku sosial.

Isro’ Mi’roj merupakan peristiwa yang menguji kepercayaan umat. Ketika Rasululloh SAW menyampaikan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha, respons publik terbelah. Di tengah keraguan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyatakan pembenaran tanpa syarat. Sikap tersebut melahirkan gelar Ash-Shiddiq dan menjadi rujukan etika shiddiq dalam Islam.

Nilai shiddiq kemudian berkembang sebagai prinsip spiritual yang diwariskan lintas generasi. Pada abad ke-9 M, ajaran ini mencapai masa penting di bawah kepemimpinan Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Di wilayah Busthom, Iran, dan Irbil, Irak, Shiddiqiyyah berfungsi sebagai pilar pembentukan kesadaran tauhid dan integritas sosial.

Pasca wafatnya Abu Yazid pada 874 M, penamaan thoriqoh mengalami perubahan mengikuti kepemimpinan dan konteks zaman. Ulama Irbil, Syekh Amin Al-Qurdi, mencatat bahwa perubahan nomenklatur tidak menghapus substansi ajaran. Nilai shiddiq tetap hidup dalam berbagai jalur tasawuf.

Baca Juga :  Inovasi Pembangunan Berbasis Komunitas: Model Rumah Syukur Shiddiqiyyah

Indonesia menjadi ruang kebangkitan Shiddiqiyyah pada abad ke-20. Ulama asal Ploso, Jombang, Jawa Timur, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, sejak 1960 mengajarkan kembali ajaran ini secara bertahap. Empat fase pengajaran dilalui hingga berdiri resmi pada 4 April 1972.

Pendekatan yang diterapkan menempatkan spiritualitas sebagai bagian dari pembangunan manusia. Pendidikan, penguatan sosial, dan kebangsaan menjadi arena aktualisasi nilai shiddiq. Dari prinsip ini lahir berbagai lembaga pendidikan dan organisasi sosial yang menghubungkan iman dengan tindakan nyata.

Dalam konteks kebijakan publik dan pembangunan sosial, Shiddiqiyyah memperlihatkan bahwa kejujuran bukan sekadar nilai personal, melainkan aset kolektif. Ia membangun kepercayaan, menurunkan biaya sosial, dan memperkuat kohesi masyarakat.

Dengan perkembangan lintas wilayah dan generasi, Shiddiqiyyah menawarkan model integrasi antara spiritualitas dan kemajuan sosial—sebuah pendekatan yang relevan bagi Indonesia masa kini. ***