
IndonesiaForward.net — Indonesia menutup SEA Games 2025 di Thailand dengan peringkat kedua klasemen akhir setelah mengoleksi 333 medali, terdiri atas 91 emas, 112 perak, dan 130 perunggu. Raihan ini menjadi capaian terbaik Indonesia dalam 30 tahun terakhir dan hasil paling optimal di luar status tuan rumah sejak 2011.
Capaian tersebut memperlihatkan daya saing atlet Indonesia di tingkat Asia Tenggara. Namun, sejumlah fakta lapangan menunjukkan tantangan dalam dukungan pembinaan yang menyertai prestasi tersebut.
Atlet Bertumpu pada Kemandirian
Atlet jetski Indonesia Aero Sutan Aswar meraih emas nomor endurance open di Pattaya dengan total 1.132 poin. Prestasi itu diraih tanpa dukungan dana pemusatan latihan nasional (pelatnas) dan menggunakan jetski sewaan yang dibiayai secara pribadi.
“Masuk kontingen, tapi tidak ada biaya,” ujar Aero setibanya di Tanah Air, Rabu (17/12/2025). Ia menyebut seluruh proses persiapan dan latihan dilakukan secara mandiri akibat tidak adanya dukungan pendanaan.
Hal serupa dialami atlet balap sepeda Rendy Varera Sanjaya asal Kediri, Jawa Timur. Demi tampil di SEA Games 2025, Rendy menjual mobil pribadinya untuk membeli sepeda kompetisi.
“Saya jual mobil sekitar Rp50 juta dan beli sepeda sekitar Rp30 juta,” kata Rendy di Kediri, Selasa (16/12/2025). Keputusan tersebut menghasilkan dua medali emas pada nomor Mountain Bike Cross Country Eliminator serta satu perak di nomor downhill.
Cabang Tetap Berprestasi
Pada cabang kickboxing, manajer tim Indonesia Rosi Nurasjati tetap berangkat ke Thailand dengan biaya mandiri akibat status suspended dari WAKO. Meski tidak dapat mendampingi atlet di arena, cabang ini tetap menyumbang enam medali, terdiri atas satu emas, satu perak, dan empat perunggu.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas raihan tersebut dan menegaskan komitmen pemerintah untuk menghargai atlet berprestasi.
Prestasi SEA Games 2025 menegaskan kapasitas atlet Indonesia, sekaligus menghadirkan data penting bagi evaluasi kebijakan pembinaan olahraga nasional.***
