Minggu, April 19News That Matters

Laporan Kebijakan LCT: Transaksi Non-Dolar Indonesia Melonjak 163 Persen

indonesiaforward.net — Pemerintah Indonesia memperkuat fundamental ekonomi nasional melalui akselerasi kebijakan dedolarisasi bertahap yang diimplementasikan lewat kerangka Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi risiko volatilitas dolar AS.

Laporan kinerja moneter awal 2026 menunjukkan efektivitas kebijakan ini dengan nilai transaksi LCT mencapai $8,45 miliar pada Januari-Februari, tumbuh signifikan sebesar 163 persen dibandingkan periode 2025.

Langkah progresif ini selaras dengan target diversifikasi pembayaran internasional, di mana penggunaan mata uang lokal kini menjadi instrumen utama dalam menjaga ketahanan pasar valuta asing domestik.

Hingga April 2026, perluasan kerja sama telah mencakup enam negara mitra utama, memperkuat posisi Indonesia dalam integrasi keuangan regional di Asia Tenggara dan mitra strategis Asia Timur.

Analisis Dampak LCT terhadap Ekosistem Keuangan

Penerapan LCT secara substansial mampu menekan tekanan terhadap permintaan dolar AS di pasar domestik melalui penyelesaian transaksi langsung menggunakan mata uang mitra dagang.

Kebijakan ini memberikan kepastian biaya bagi pelaku industri riil, terutama BUMN yang telah berkontribusi hingga 19 persen dalam total volume transaksi non-dolar sepanjang tahun berjalan.

Baca Juga :  Reformasi Free Float: Prajogo Pangestu Divestasi 764 Juta Saham CUAN

LCT memungkinkan transaksi antar negara bisa dilakukan tanpa tergantung mata uang dollar AS, jelas Ferry Irawan, Deputi Kemenko Perekonomian, dalam keterangan resminya pada 11 April 2026.

Transformasi ini didukung oleh pertumbuhan basis pengguna aktif yang mencapai 14.621 pihak pada Februari 2026, mencerminkan adopsi kebijakan yang luas di tingkat korporasi dan institusi finansial.

Integrasi Moneter dan Ekspansi Digital QRIS

Bank Indonesia melakukan inovasi kebijakan dengan meluncurkan instrumen moneter dalam Yuan dan Yen guna mendukung operasional foreign exchange yang lebih inklusif dan efisien.

Sinergi ini diperkuat dengan ekspansi QRIS lintas batas yang kini menyasar pasar China dan Korea Selatan setelah sukses diimplementasikan di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Transaksi yang dicatat Indonesia dengan China menggunakan mata uang lokal telah mencapai hampir $7 miliar, ungkap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, pada pernyataan 4 November 2025.

Bank sentral menegaskan bahwa strategi ini merupakan upaya teknis untuk memperkuat struktur moneter dan bukan merupakan bentuk sentimen anti-dolar di pasar global.

Baca Juga :  Mitigasi Strategis Kebijakan Energi Merespons Kenaikan Harga Minyak Mentah

Ini bukan dedolarisasi dan anti dolar… kebijakan LCS tersebut hanya mengurangi ketergantungan pasar domestik terhadap mata uang dolar AS semata, tegas R Triwahyono, Kepala Grup Review BI pada 25 September 2024. ***