
indonesiaforward.net — Realisasi angka pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi riil di tingkat bawah. Sejumlah pengamat kebijakan publik mengingatkan adanya faktor efek pembanding (base effect) yang cukup signifikan dari performa periode sebelumnya.
Berdasarkan analisis struktur data makro, pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai masih didominasi oleh faktor konsumsi domestik di tengah pelemahan kinerja perdagangan luar negeri. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait munculnya tantangan struktural yang dapat menahan laju ekspansi dunia usaha secara berkelanjutan.
Anomali dalam pemulihan ekonomi ini terlihat dari pergeseran penyerapan tenaga kerja yang kian mengarah pada sektor non-formal. Kondisi ketenagakerjaan yang kurang ideal ini berpotensi menjebak produktivitas nasional ke dalam fenomena jebakan sektor informal (informality trap) yang sulit diurai dalam jangka pendek.
“Hasil survei berkala mengonfirmasi adanya persepsi dari para pelaku ekonomi bahwa iklim usaha sedang menghadapi tekanan. Terdapat indikasi terjadinya penciutan peran ekspansi swasta akibat dominasi program-program yang bersifat sentralistik,” papar ekonom senior Rahma Gafmi dalam rilis kajian akademisnya, Senin (18/5/2026).
Data statistik menunjukkan bahwa porsi penduduk yang bergantung pada kegiatan informal justru meningkat hingga menyentuh angka 59,42 persen. Angka ini berjalan beriringan dengan laporan penyesuaian upah riil pekerja yang tercatat hanya tumbuh di kisaran 1,8 persen, berada di bawah laju pertumbuhan PDB.
Kerapatan tantangan ekonomi riil ini dipertegas oleh performa sektor eksternal. Pertumbuhan volume ekspor dilaporkan melambat di angka 0,90 persen, berbanding terbalik dengan lonjakan volume impor yang menyentuh angka 7,18 persen akibat tingginya kebutuhan material operasional domestik.
“Ketidaksesuaian antara target ambisi pembangunan nasional dan kapasitas kelembagaan serta pengelolaan fiskal yang hati-hati dapat memicu koreksi dari para pelaku pasar keuangan global,” tulis catatan analisis dari perwakilan media riset politik ekonomi regional di Jakarta.
Kombinasi antara melebarnya defisit neraca berjalan secara riil dan sentimen ketidakpastian kebijakan makro telah menekan pergerakan instrumen moneter. Di pasar spot, nilai tukar mata uang domestik dilaporkan masih bergerak fluktuatif setelah mengalami tekanan depresiasi kumulatif yang cukup tajam terhadap dolar AS. ***
