
indonesiaforward.net – Gunung Ibu erupsi secara konsisten sepanjang 2026 dan tercatat sebagai gunung api teraktif kedua di Indonesia. Data MAGMA Indonesia milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan hingga pertengahan Februari 2026, Gunung Ibu telah erupsi 259 kali. Aktivitas Gunung Ibu hanya berada di bawah Gunung Semeru dalam statistik nasional tahun ini.
Secara nasional, hingga periode yang sama, tercatat 620 letusan gunung api di Indonesia. Kontribusi Gunung Ibu menjadi salah satu yang terbesar dalam komposisi tersebut.
Pada Minggu (15/2/2026) pukul 14.03 WIT, Gunung Ibu kembali erupsi. Kolom abu teramati setinggi 500 meter di atas puncak atau 1.825 meter di atas permukaan laut. Warna abu kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur.
259 Kali Erupsi hingga Pertengahan Februari 2026
Sejak Januari 2026, Gunung Ibu telah erupsi 158 kali. Intensitas itu berlanjut pada Februari dan memperkuat posisinya sebagai peringkat kedua nasional.
Dalam sepekan terakhir hingga 15 Februari 2026, tercatat 38 kali erupsi. Angka ini menunjukkan frekuensi yang tetap tinggi dalam skala mingguan.
Pengamatan kegempaan pada 15 Februari 2026 pukul 00.00-23.59 WIT mencatat 113 kali gempa letusan. Amplitudo berada pada 12-28 milimeter dengan lama gempa 37-87 detik.
Status Level II dan Parameter Resmi
PVMBG menetapkan Gunung Ibu pada Level II (Waspada). Status ini menunjukkan aktivitas berada di atas normal dan masih berlangsung.
Rekomendasi resmi melarang aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Perluasan sektoral diberlakukan hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah bagian utara.
Secara faktual, kontribusi 259 kali erupsi terhadap total 620 letusan nasional menempatkan Gunung Ibu sebagai salah satu pusat aktivitas utama 2026.
Data tersebut bersumber dari sistem pemantauan resmi MAGMA Indonesia. Aktivitas Gunung Ibu dalam dua bulan pertama tahun ini tercatat konsisten dalam pengamatan kegempaan dan visual erupsi.
Dalam peta aktivitas vulkanik nasional 2026, Gunung Ibu menempati posisi strategis kedua. Angka-angka resmi itu menjadi dasar evaluasi berkelanjutan dalam sistem pemantauan gunung api Indonesia.
