
indonesiaforward.net – Libur Imlek 2026 membuat BEI tutup pada 16–17 Februari dan menyisakan 18 hari bursa sepanjang bulan ini. Di tengah kalender perdagangan yang terbatas, pasar menanti keputusan BI Rate 2026 dalam Rapat Dewan Gubernur 18–19 Februari. Perdagangan kembali dibuka pada 18 Februari 2026, bertepatan dengan dimulainya agenda kebijakan tersebut.
Berdasarkan laman resmi Bursa Efek Indonesia, 16 Februari 2026 merupakan cuti bersama Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Selanjutnya 17 Februari 2026 diperingati sebagai hari Imlek. Aktivitas bursa dihentikan dua hari.
BI Rate 2026 Jadi Poros Perhatian Pasar
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan pada 18–19 Februari 2026. Suku bunga acuan diperkirakan bertahan di level 4,75%. Artinya, hari pertama bursa aktif kembali langsung bersinggungan dengan keputusan moneter.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, “Untuk sentimen, kami perkirakan investor akan menanti BI rate yang akan diumumkan pada Kamis, serta masih akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas,.”
Momentum ini mempertemukan dua variabel sekaligus. Kalender perdagangan yang lebih pendek dan penentuan arah suku bunga.
Kondisi Pasar Menjelang Keputusan Moneter
Pada Jumat (13/2/2026), IHSG turun 0,64% ke level 8.212. Nilai transaksi tercatat Rp24,41 triliun. Sebanyak 408 saham melemah, 267 menguat, dan 148 stagnan.
Sebelumnya, pada periode 2–6 Februari 2026, IHSG turun 4,73% ke 7.935,26. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp14.314 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian susut 43,45% menjadi Rp24,75 triliun.
Namun pada pekan berikutnya IHSG naik 3,49% ke 8.212,27 dengan kapitalisasi mencapai Rp14.889 triliun. Investor asing tetap mencatat aksi jual Rp5,47 triliun.
Dalam konteks tersebut, BI Rate 2026 menjadi titik tekan utama pasar setelah jeda Libur Imlek. Struktur Februari yang hanya memiliki 18 hari bursa mempersempit ruang respons, sementara keputusan moneter berpotensi memengaruhi arah indeks dalam jangka pendek.
