Senin, Juli 27News That Matters

Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon Selatan: Evaluasi Perlindungan Pasukan PBB

indonesiaforward.net — Data operasional dari Lebanon Selatan mengonfirmasi satu prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka akibat hantaman proyektil artileri di pos UNIFIL Indonesia.

Insiden tersebut terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026, di lokasi strategis Adshit al-Qusayr, Distrik Marjayoun. Satu personel dinyatakan meninggal dunia, satu orang dalam kondisi kritis, sementara dua personel lainnya mengalami luka ringan di lokasi kejadian.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan artileri tidak langsung tersebut diduga berasal dari aktivitas militer Israel (IDF). Saat ini, UNIFIL tengah menjalankan prosedur investigasi forensik untuk validasi asal-usul proyektil secara objektif.

Komitmen Perlindungan Personel Internasional

Indonesia sebagai kontingen terbesar dengan 1.200 personel menuntut jaminan keamanan penuh sesuai dengan mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang mengatur gencatan senjata.

“Keselamatan dan keamanan personel pemelihara perdamaian PBB harus senantiasa dihormati sepenuhnya, sesuai dengan hukum internasional. Setiap tindakan yang membahayakan peacekeeper tidak dapat diterima,” tulis pernyataan resmi @Kemlu_RI pada Senin, 30 Maret 2026.

Baca Juga :  Penembakan Massal di ICSD: Evaluasi Sistem Deteksi Dini dan Regulasi Senjata Api AS

Data Korban dan Upaya Repatriasi

Pihak Kementerian Pertahanan Republik Indonesia membenarkan data korban dari prajurit TNI, di mana proses klarifikasi operasional masih berjalan intensif bersama markas besar UNIFIL di Naqoura.

“Terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu 1 orang meninggal dunia, 1 dalam kondisi luka berat, dan 2 luka ringan. Proses klarifikasi masih dilakukan oleh UNIFIL,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Karo Infohan Setjen Kemhan, pada 30 Maret 2026.

Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Langkah strategis kini difokuskan pada perlindungan 1.200 personel Indonesia yang bertugas di zona konflik aktif Lebanon Selatan guna memastikan misi perdamaian tetap berjalan efektif. ***