
indonesiaforward.net — Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menginisiasi pembangunan laboratorium stem cell sebagai langkah progresif memperkuat ketahanan kesehatan nasional berbasis riset pengobatan regeneratif. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada Juli 2026 ini dirancang untuk menjawab tantangan kelangkaan infrastruktur medis mutakhir di Indonesia yang saat ini baru tersedia di delapan lokasi.
Wakil Rektor IV Unisa Yogyakarta, Ali Imron, menekankan pentingnya adopsi teknologi medis masa depan demi inklusivitas layanan kesehatan. “Prinsip kita di Unisa Yogyakarta, teknologi kesehatan tidak boleh hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja,” tegas Ali Imron saat acara Media Gathering di Sleman, Senin, 9 Maret 2026.
Data dan Analisis Urgensi Laboratorium Domestik
Data menunjukkan biaya terapi turunan stem cell di Indonesia masih sangat tinggi, di mana sekali injeksi untuk penyakit tertentu seperti diabetes mellitus dapat mencapai Rp225 juta akibat ketergantungan pada produk impor. Dengan membangun laboratorium riset mandiri, Unisa Yogyakarta berupaya menciptakan efisiensi biaya sehingga aksesibilitas masyarakat terhadap pengobatan berbasis bioteknologi ini dapat ditingkatkan secara signifikan.
Pembangunan gedung laboratorium saat ini sedang berlangsung dan diharapkan dapat mempercepat produksi inovasi kesehatan lokal untuk menekan harga pasar. Kehadiran laboratorium ke-9 di Indonesia ini akan menjadi pilar penting dalam ekosistem regenerative medicine, yang diproyeksikan menjadi tren utama dunia medis dalam beberapa dekade mendatang.
Integrasi Akademik dan Kepastian Syariat
Laboratorium ini akan diintegrasikan dengan Program Magister Fisioterapi yang baru dibuka, menciptakan ekosistem riset yang selaras antara fasilitas fisik dan pengembangan keilmuan. Selain aspek teknis, Unisa Yogyakarta juga telah melakukan validasi melalui diskusi Fatwa Tarjih bersama PP Muhammadiyah pada September 2025 untuk memastikan seluruh praktik riset sel punca ini sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menjelaskan bahwa koordinasi dengan Majelis Tarjih sangat diperlukan agar umat memiliki pegangan yang kokoh dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan. Melalui sinergi riset dan landasan etika ini, Unisa Yogyakarta optimis mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sains kesehatan dan kemaslahatan masyarakat luas di masa depan.***
