Sabtu, Juni 6News That Matters

Kepemimpinan Adat Ciptagelar Jadi Model Ketahanan Sosial Berbasis Nilai

IndonesiaForward.net — Kasepuhan Gelar Alam di Ciptagelar mempertahankan kepemimpinan Abah dan Rorokan sebagai struktur sosial yang memastikan ketahanan komunitas, terutama dalam menjaga keberlanjutan pertanian, tata ruang, dan nilai budaya.

Secara historis, komunitas ini berasal dari jejak kerajaan Prabu Siliwangi di Cipatat. Perpindahan para pemuka adat mengikuti wangsit leluhur melahirkan tradisi ngalalakon, mekanisme relocasi permukiman yang diyakini memulihkan tatanan sosial. Para tetua menegaskan, “Wangsit adalah bagian dari kebo mulih pakandangan.

Uga sebagai Basis Kebijakan Adat

Uga menjadi landasan pengaturan sosial, dari pertanian tradisional hingga keputusan komunitas. Nilai-nilai dalam Uga Wangsit Siliwangi menuntun masyarakat menjaga keseimbangan ekologis dan budaya.

Kepemimpinan Abah menjadi pusat koordinasi. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang memegang amanah sejak 2008 melanjutkan langkah Abah Anom yang mengarahkan perpindahan besar pada 1990 dari Ciptarasa ke Ciptagelar.

Rorokan sebagai Pilar Eksekusi Program Adat

Tujuh rorokan menjalankan fungsi teknis. Menurut Dalang Dede, portofolio itu meliputi Paraji (kesehatan), Bengkong (sunat), Padingaran (perlindungan padi), Amil atau Kapanghuluan (zakat), Pakaya (tanah adat), serta urusan pertanian dan seni pantun.

Baca Juga :  Kebijakan Kebudayaan KDM Berhasil Dorong Penataan Infrastruktur Publik Jabar

Struktur ini bekerja seperti sistem pemerintahan mikro dengan mandat jelas. Tidak ada hierarki sosial selain kedudukan Abah, memastikan distribusi peran yang efektif.

Model ini menunjukkan bagaimana komunitas adat dapat menjaga ketahanan sosial melalui tata kelola berbasis nilai tradisional. (*)