Cirebon, IndonesiaForward.net - Edi Rasidi, warga Jadimulya, Gunungjati, Kabupaten Cirebon, menerima rumah gratis dari program Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah. Ia aktif di OPSHID Cirebon dan dikenal gigih serta konsisten. Rumahnya dibangun bersama puluhan unit lain yang ditargetkan rampung sebelum Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Rumah gratis untuk warga Gunungjati
Nama Edi masuk dalam daftar penerima Rumah Syukur untuk wilayah Cirebon. Alamatnya di Jadimulya, Gunungjati, Kabupaten Cirebon.
Rumah itu satu dari 59 unit yang dibangun Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan yang Maha Esa (OPSHID FKYME). Menurut data Kesekretariatan DPP OPSHID, 58 penerima sudah terdata.
Edi Rasidi, aktif dan konsisten di OPSHID Cirebon
Edi terbiasa dengan kegiatan keagamaan. Dari sana tumbuh kecintaannya pada tanah air.
Nilai itu ia wujudkan lewat aktivitas sosial dan pengabdian. Di OPSHID Cirebon, ia dikenal gigih dan konsisten.
Kini pengabdian itu berbalas rumah baru dari organisasi tempatnya aktif.
Dibangun gotong royong, tanpa biaya dari penerima
OPSHID membangun seluruh rumah secara mandiri dalam semangat Sumpah Pemuda. Setiap tahap dikerjakan bersama lewat gotong royong:
- survei rumah yang akan dibangun
- pembongkaran bangunan lama
- pembangunan rumah
- pengisian perabotan hingga 100% siap huni
Seluruh biaya pembangunan dan konsumsi selama proses ditanggung OPSHID. Penerima tidak mengeluarkan biaya sepeserpun.
Program dalam angka
| Hal | Keterangan |
|---|---|
| Nama program | Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah |
| Jumlah rumah | 59 unit |
| Penerima terdata | 58 dari 59 unit |
| Sebaran | 50 kabupaten/kota di 12 provinsi, dari Lampung sampai Kalimantan |
| Periode | 21 September sampai 28 Oktober 2026 |
Mengapa OPSHID memilih rumah, bukan bantuan lain
Perwakilan DPP OPSHID menjelaskan alasannya.
"OPSHID memilih untuk membangun Indonesia dengan memberikan pembangunan rumah gratis bukan tanpa sebab. Rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, dan bisa diwariskan generasi ke generasi. Dengan memberikan rumah, harapan kami bisa memperbaiki kenyamanan hidup 1 keluarga dan generasi selanjutnya. Serta dapat memutus rantai kemiskinan mereka," jelas Perwakilan DPP OPSHID, Mulyono.
Rumah punya umur panjang. Berbeda dengan bantuan yang habis dipakai, bangunan bisa ditinggali anak dan cucu.
Bagi satu keluarga penerima, rumah layak berarti tempat berteduh yang lebih nyaman hari ini dan modal tempat tinggal untuk generasi berikutnya.
Menuju 28 Oktober: waktu yang makin sempit
Tantangan terbesarnya ada pada jarak dan waktu. Sebanyak 59 rumah tersebar di 12 provinsi dan harus rampung sebelum 28 Oktober 2026, atau sekitar tiga pekan lagi.
Satu rumah juga belum tercatat penerimanya dalam data terakhir DPP.
Setelah rampung, seluruh rumah direncanakan diresmikan pada Tasyakuran Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98 di Ploso, Jombang, Jawa Timur.