
IndonesiaForward.net — Banjir bandang 2025 di Aceh, Sumut, dan Sumbar—yang menewaskan 744 warga dan mengungsikan lebih dari 1,1 juta jiwa—menjadi preseden kuat bahwa Indonesia menghadapi ancaman ekologis lintas pulau. Data terbaru menunjukkan deforestasi Kalimantan, Papua, dan Sulawesi meningkat dan memasuki fase kritis.
FWI dan Auriga Nusantara mencatat deforestasi nasional mencapai 257.384 hektare pada 2023, naik dari 230.760 hektare pada 2022. Kalimantan menjadi kontributor terbesar. Papua mengalami degradasi luas sejak 1990, sementara Sulawesi mencatat deforestasi puluhan ribu hektare antara 2021–2024.
Risiko meningkat di kawasan hulu DAS
Peneliti Hidrologi UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa banjir bandang Sumatera memperlihatkan hubungan langsung antara deforestasi dan daya rusak bencana. “Hutan hulu DAS adalah penyangga utama. Ketika hilang, hujan ekstrem berubah menjadi bencana,” ujarnya (3/12/2025).
Direktur WALHI Aceh, Ahmad Solihin, menilai bencana tersebut merupakan konsekuensi kebijakan yang abai. WALHI Sumbar memperingatkan lemahnya penegakan hukum dalam sektor kehutanan.
Pemerintah pusat menyebut deforestasi netto menurun, namun pejabat daerah menilai angka itu tidak mewakili lapangan. “Jika hutan kami terjaga, bencana tak akan separah ini,” kata anggota DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, 2/12/2025.
Para peneliti menekankan perlunya intervensi kebijakan berbasis data: audit izin, perlindungan hulu DAS, reforestasi sistematis, dan pengawasan ketat terhadap ekspansi tambang, sawit, dan Hutan Tanaman Energi (HTE). Tanpa langkah korektif, risiko banjir bandang serupa Sumatera dapat muncul di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. ***
