
IndonesiaForward.net – Nilai rial Iran merosot drastis hingga Rabu (14/1) setelah menembus kisaran 1,06 juta IRR per dolar AS dari posisi 42 ribu di awal 2025. Di Teheran, kejatuhan ini memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi fiskal negara ketika inflasi sudah mencapai 42 persen dan subsidi energi mulai dipangkas. Krisis ini terjadi di tengah tekanan sanksi internasional yang menekan penerimaan devisa.
Anggaran Tertekan, Devaluasi Tak Terbendung
Dalam hitungan minggu, rial Iran kehilangan ribuan persen nilainya. Kurs yang sebelumnya 42 ribu IRR per dolar AS kini melonjak lebih dari 1 juta. Lonjakan ini mencerminkan tekanan berat terhadap kas negara, terutama setelah ekspor minyak sebagai sumber utama devisa terus terhambat oleh sanksi.
Pemerintah Iran berada di posisi sulit. Di satu sisi, belanja negara harus dipertahankan untuk meredam gejolak sosial. Di sisi lain, penerimaan pajak dan devisa menyusut tajam. Dalam kondisi ini, kebijakan mencetak uang kembali dipilih, sebuah langkah yang justru mempercepat pelemahan rial Iran.
Inflasi dan Hilangnya Kepercayaan Publik
Inflasi Iran telah mencapai 42 persen per Desember 2025. Harga daging, beras, dan kebutuhan dapur lain melonjak seiring anjloknya rial Iran. Ketika uang lokal kehilangan fungsi sebagai penyimpan nilai, warga mulai beralih ke dolar AS, emas, atau bahkan mata uang regional.
Di pasar gelap valuta, aktivitas penukaran rial Iran meningkat tajam. Fenomena ini memperlihatkan menurunnya kepercayaan publik terhadap kebijakan moneter pemerintah. Semakin banyak uang yang dilepas ke pasar, semakin besar pula tekanan terhadap IRR.
Subsidi Energi Mulai Dikorbankan
Runtuhnya rial Iran juga memukul sektor energi. Selama puluhan tahun, harga bahan bakar di Iran termasuk yang termurah di dunia karena subsidi besar. Namun, sejak Desember 2025 pemerintah menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat untuk menahan defisit.
Dalam aturan baru tersebut, setiap pengendara masih mendapat jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 ribu rial Iran per liter. Setelah itu, 100 liter tambahan dijual 30 ribu IRR per liter, dan konsumsi di atas 160 liter melonjak menjadi 50 ribu rial Iran per liter. Skema ini menandai pergeseran besar dalam kebijakan fiskal Iran.
Tekanan Geopolitik dan Risiko Sosial
Di tingkat global, rial Iran kini tercatat sebagai mata uang terlemah dengan nilai sekitar 1.092.500 IRR per dolar AS. Sanksi Barat terkait program nuklir dan konflik regional terus menutup ruang gerak ekonomi Iran.
Ketika tekanan fiskal bertemu dengan inflasi tinggi, risiko sosial meningkat. Kerusuhan akibat mahalnya biaya hidup terjadi secara berkala. Dalam situasi seperti ini, stabilitas rial Iran tidak lagi sekadar isu ekonomi, tetapi menyangkut keberlanjutan tatanan sosial di negara tersebut.
