Minggu, April 19News That Matters

Pendidikan Indonesia Menghadapi Dominasi Cara Berpikir Global

IndonesiaForward.net — Ideologi asing dalam pendidikan modern bekerja tidak melalui paksaan langsung, melainkan lewat pembentukan cara berpikir dan standar pengetahuan yang diterima sebagai ukuran rasionalitas dan kemajuan.

Berbagai kajian pendidikan kritis menempatkan sekolah sebagai medium paling efektif dalam proses tersebut. Pendidikan berlangsung sejak usia dini, berulang setiap hari, dan diterima sebagai rutinitas yang jarang dipertanyakan.

Dalam teori hegemoni, dominasi paling stabil justru tercapai ketika nilai luar diterima sebagai akal sehat bersama. Pemikir Italia Antonio Gramsci menegaskan bahwa ideologi bekerja efektif saat diserap secara sukarela oleh masyarakat.

Konsep ini diperkuat oleh pemikiran Louis Althusser, yang menyebut sekolah sebagai aparatus ideologis negara. Pendidikan membentuk kesadaran warga jauh sebelum individu memasuki ruang politik dan ekonomi.

Jejak Sejarah dalam Sistem Pendidikan

Di Indonesia, sistem pendidikan modern berkembang di atas fondasi kolonial. Pada masa Hindia Belanda, sekolah dirancang untuk mencetak tenaga administrasi terdidik yang patuh terhadap struktur kekuasaan.

Penasihat kolonial Snouck Hurgronje merekomendasikan pembatasan Islam pada wilayah ritual serta penghilangan nilai budaya lokal dari pendidikan formal. Ilmu Barat diposisikan sebagai satu-satunya standar rasionalitas.

Baca Juga :  Kurikulum dan Arus Global: Sekolah di Titik Uji Kedaulatan Nalar

Struktur ini tidak sepenuhnya hilang setelah kemerdekaan. Ia beradaptasi dalam konteks globalisasi dan bertahan melalui kurikulum modern.

Tantangan Pembangunan Manusia

Dalam lanskap global, ideologi asing hadir sebagai universalisme pengetahuan. Akademisi Henry A. Girouxmenegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ketika satu kerangka berpikir mendominasi, pengetahuan lokal kehilangan ruang.

Orientasi pendidikan kemudian diarahkan pada produktivitas dan daya saing ekonomi. Paulo Freire mengkritik pendekatan yang mereduksi manusia menjadi sumber daya ekonomi dan melemahkan kesadaran kritis.

Para akademisi menilai, pendidikan Indonesia perlu membangun keseimbangan antara keterbukaan global dan penguatan akar historis bangsa agar pembangunan manusia berjalan berkelanjutan.***