Jumat, Juni 5News That Matters

Ndalem Pojok Kediri Perkuat Karakter Bangsa Melalui Inovasi Wisata Bisu

IndonesiaForward.net — Situs Ndalem Pojok Kediri meluncurkan program Wisata Bisu pada Kamis (5/2/2026) sebagai inovasi kebijakan pendidikan karakter berbasis keheningan untuk memperkuat modal manusia dan jati diri generasi muda. Program bertajuk Transformasi Jiwa Kusno Menjadi Soekarno ini diimplementasikan di Desa Pojok, Kecamatan Wates, sebagai respons progresif terhadap kebutuhan ruang refleksi bagi pelajar di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.

Kebijakan edukasi ini merupakan pengembangan strategis dari Pilot Project Bimbingan dan Pelatihan Laboratorium Pendidikan Karakter Jati Diri Bangsa. Melalui restrukturisasi durasi dari satu hari penuh menjadi paket dua jam, program ini menawarkan efisiensi tanpa mereduksi esensi nilai yang disampaikan. Langkah ini diambil untuk memastikan program dapat diadopsi secara luas oleh institusi pendidikan formal sebagai bagian dari kurikulum penguatan karakter.

Ketua Umum Situs Ndalem Pojok, R.M. Suhardono, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak maksimal dalam waktu yang singkat. Kami mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih ringkas namun tetap bermakna. Peserta diajak merasakan suasana situs secara lebih hening dan reflektif dalam waktu sekitar dua jam, papar Suhardono saat menjelaskan kerangka kerja program tersebut.

Baca Juga :  Wisata Keheningan Global, Ndalem Pojok Kembangkan Model Edukatif

Sistem Tiga Tahap dalam Pengembangan Karakter

Implementasi Wisata Bisu menggunakan pendekatan experiential learning yang terbagi ke dalam tiga tahap sistematis. Tahap pertama difokuskan pada prosesi hening untuk menumbuhkan adab dan pengendalian diri. Tahap kedua melibatkan storytelling kontekstual guna membangun pemahaman sejarah yang kuat, dan tahap ketiga adalah internalisasi jati diri melalui refleksi personal terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Kepala Program, Kushatono, S.M., menekankan bahwa program ini merupakan model edukasi terstruktur. Ia membedakan inisiatif ini dengan tradisi Tapa Bisu atau retreat spiritual umum, karena Wisata Bisu diarahkan spesifik untuk penguatan karakter kebangsaan siswa. Dengan teknik Neuro-Pedagogi, logika peserta diistirahatkan sejenak untuk mengaktifkan kepekaan batin terhadap nilai-nilai luhur yang ada di situs sejarah tersebut.

Data dari uji coba program menunjukkan respons positif, salah satunya dari Faridatul Kholidah, siswi SMA asal Jombang. Ia menilai metode hening memberikan kedalaman makna yang lebih kuat dibandingkan kunjungan konvensional. Melalui visi bahwa anak yang mampu mendengar dalam keheningan akan mampu memimpin dalam keramaian, program ini diproyeksikan menjadi standar baru dalam wisata edukatif berbasis kebijakan karakter yang berkelanjutan. (*)

Baca Juga :  Surabaya Pastikan Bantuan Bencana Sumatra Tepat Sasaran