Minggu, April 19News That Matters

Data Bapanas: Harga Cabai Awal Ramadan 2026 Lampaui Target

indonesiaforward.net – Data resmi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan harga cabai pada awal Ramadan 2026 melampaui target Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah. Berdasarkan Panel Harga Pangan per 20 Februari 2026, rata-rata nasional cabai rawit merah berada di kisaran Rp74.818 hingga Rp78.295 per kilogram. Sementara HAP ditetapkan pada rentang Rp40.000–Rp57.000 per kilogram.

Selisih tersebut menandakan deviasi signifikan terhadap batas atas acuan. Kenaikan ini terjadi pada fase awal Ramadan ketika permintaan rumah tangga mulai meningkat.

Panel Harga Pangan dan Deviasi dari HAP

Panel Harga Pangan Bapanas mencatat sejumlah provinsi telah menembus harga di atas Rp100.000 per kilogram. Di DKI Jakarta, harga cabai rawit merah tercatat Rp113.438 per kilogram. Angka ini hampir dua kali lipat dari batas bawah HAP dan mendekati 100 persen di atas acuan pemerintah.

Secara agregat nasional, rata-rata harga tetap berada jauh di atas target stabilisasi. Artinya, tekanan harga tidak bersifat sporadis, melainkan terjadi secara luas di berbagai wilayah.

Baca Juga :  Refleksi 17 Ramadhan: Shiddiqiyyah Ulas Rahasia Spiritual Proklamasi RI

“Harga bergerak naik seiring peningkatan permintaan Ramadan dan pasokan yang belum sepenuhnya pulih,” demikian catatan dalam pemantauan Panel Harga Pangan, Jumat (20/2/2026).

Respons Kebijakan Berbasis Angka

Merespons data tersebut, pemerintah melakukan langkah intervensi pasokan. Kementerian Pertanian mengguyur 980 kilogram cabai ke Pasar Induk Kramat Jati dengan harga Rp55.000 per kilogram. Target harga konsumen dipatok maksimal Rp65.000 per kilogram.

Selain itu, koordinasi dilakukan bersama Perum Bulog dan asosiasi komoditas untuk menjaga kelancaran distribusi menjelang Lebaran 2026. Pemerintah menekankan bahwa pengambilan kebijakan dilakukan berbasis data harian Panel Harga Pangan.

Kenaikan Harga Cabai Lebaran 2026 yang telah melampaui HAP sejak awal Ramadan menjadi indikator penting bagi stabilitas pangan nasional. Efektivitas intervensi pasokan dan distribusi akan menentukan apakah harga dapat kembali mendekati target sebelum puncak konsumsi Lebaran.