Senin, Juni 15News That Matters

BI-PBOC Perluas Kerja Sama LCT Hingga Jaringan Hong Kong

indonesiaforward.net — Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC) melakukan lompatan besar dalam kebijakan moneter internasional dengan memperluas kerangka Local Currency Transaction (LCT) hingga ke Hong Kong pada Kamis (11/6). Langkah strategis yang diputuskan dalam pertemuan tingkat tinggi di Shanghai ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi pembangunan kawasan.

Perluasan instrumen hukum ini dilakukan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Kebijakan publik ini bertujuan menekan biaya konversi mata uang dalam perdagangan internasional sekaligus memperkuat tata kelola pasar keuangan regional.

Empat Deliverables Utama Penguat Arsitektur Keuangan

Selain perluasan wilayah LCT, pertemuan ini menyepakati empat deliverables penting yang berfokus pada integrasi ekonomi digital dan ketahanan infrastruktur pembayaran lintas batas. Salah satu regulasi baru yang diterapkan adalah pembentukan Renminbi Clearing Arrangement untuk memfasilitasi likuiditas investasi domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa struktur kerja sama baru ini akan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran ritel melalui konektivitas QR code antarnegara. “Ke depan kerja sama keuangan akan memperkuat transaksi mata uang lokal antara Indonesia dan Tiongkok, mengembangkan infrastruktur keuangan,” urai Perry Warjiyo, Kamis (11/6).

Baca Juga :  Asimetri Hubungan Beijing-Moskow Menajam Di Tengah Kemerosotan Indikator Domestik Rusia

Akses Finansial Inklusif Melalui Jaringan CIPS

Penguatan ekosistem finansial ini juga ditandai dengan resminya Bank Mandiri masuk sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS). Reformasi kelembagaan perbankan ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi, keamanan, dan keandalan kliring transaksi bilateral secara real-time.

Gubernur PBOC Pan Gongsheng menekankan bahwa penguatan tata kelola ini merupakan tanggung jawab bersama kedua negara sebagai kekuatan ekonomi utama di Asia. Melalui integrasi regulasi bank sentral ini, ketahanan sistem keuangan nasional dari volatilitas eksternal dipastikan akan semakin tangguh. ***