
indonesiaforward.net — Keterlibatan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh (RCRC) Arab Saudi mempertegas relevansi konsep pembangunan perkotaan nasional di kancah internasional. Langkah ini menjadi bukti konkret adanya transfer keahlian sosiokultural dan teknokratis dari Indonesia ke wilayah Timur Tengah.
Amanah dari lembaga pemerintah tertinggi Arab Saudi yang dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman ini merupakan kelanjutan dari rekam jejak konsisten Anies dalam tata kelola global. Sebelumnya, ia telah dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Vice Chairman C-40 Steering Committee berdampingan dengan para pemimpin kota dunia seperti London dan Tokyo.
Rekonsiliasi Kebijakan Urban Lintas Negara
Dalam rangkaian agenda Riyadh Competitiveness Forum (RCF) pada 11–13 Mei 2026, Anies bersama 10 hingga 12 ahli dari berbagai belahan dunia merumuskan panduan strategis untuk meningkatkan daya saing global Kota Riyadh. Otoritas Arab Saudi secara khusus menyoroti keberhasilan perombakan lanskap transportasi publik di Jakarta sebagai salah satu parameter rujukan utama.
Model integrasi antarmoda yang diterapkan di Jakarta dinilai sukses memitigasi kemacetan dan meningkatkan keterbacaan ruang kota, sehingga relevan untuk diadopsi dalam cetak biru transformasi Riyadh menuju target ekonomi global 2030.
“Senang dan terhormat bahwa Riyadh bersemangat belajar dari kota-kota dunia, dengan Jakarta sebagai salah satu tolok ukur yang dianggap sukses melakukan transformasi transportasi publik terintegrasi,” ungkap Anies Baswedan, Kamis, 14 Mei 2026.
Dalam melakukan formulasi dan penyelarasan gagasan tersebut, Anies turut melibatkan Karsa Citylab, sebuah lembaga pemikir dan inovasi urban yang berfokus pada standardisasi kota layak huni (livable cities) di tanah air.
Diplomasi Pengetahuan di Tengah Dinamika Domestik
Munculnya kabar penunjukan ini memicu diskursus yang cukup dinamis di ruang publik nasional, terutama karena momentumnya bertepatan dengan fase pasca-kontestasi politik domestik di mana Anies tidak sedang memegang jabatan formal di pemerintahan. Fenomena ini membuktikan bahwa pengaruh seorang tokoh kebijakan publik dapat terus terjaga melalui mekanisme knowledge-diplomacy.
Secara institusional, pengakuan RCRC terhadap kluster transportasi Jakarta di panggung dunia turut menaikkan citra kota tersebut sebagai salah satu pelopor modernisasi sistem transportasi di Asia Tenggara.
“Inilah salah satu wujud semangat Jakarta sebagai kota global, tak hanya jadi tuan rumah di negeri sendiri tapi jadi tamu memesona di panggung dunia,” tegas Anies, memaparkan arah perluasan jaringan kota global ke depan. ***
