Selasa, April 21News That Matters

Syekh Muchtar Luncurkan Taubat Bersama Khusus: Inisiatif Literasi Sejarah Bangsa

indonesiaforward.net — Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi, menetapkan sebuah kebijakan spiritual progresif bertajuk “Taubat Bersama Khusus” yang dilaksanakan setiap malam 17 Ramadhan. Tradisi ini dirancang sebagai instrumen untuk mengingatkan bangsa Indonesia pada momentum kemerdekaan yang lahir di bulan suci Ramadhan, sekaligus mengoreksi kelengahan kolektif terhadap sejarah nasional dalam penanggalan Hijriah.

Inisiatif ini pertama kali digelar pada malam 17 Syahru Ramadhan 1446 H di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang. Fokus utama dari ritual ini bukanlah kesalahan individu, melainkan upaya mengatasi kelalaian nasional dalam memaknai hari lahir NKRI. Sejarah mencatat Proklamasi 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, sementara pengesahan UUD 1945 jatuh pada 10 Ramadhan 1364 H.

Mengatasi Kelengahan Kolektif Melalui Refleksi

Dalam Mau’idhotul Chasanah di hadapan ribuan jamaah, Syekh Muchtar memberikan arahan mengenai pentingnya kesadaran sejarah sebagai bagian dari kebijakan spiritual bangsa. Beliau menegaskan bahwa mengakui kelengahan terhadap akar kemerdekaan merupakan langkah awal untuk memperkuat jati diri nasional di masa depan.

Baca Juga :  Refleksi 17 Ramadhan: Shiddiqiyyah Ulas Rahasia Spiritual Proklamasi RI

“Malam ini tambahan tradisi di tiap-tiap bulan Romadlon tanggal 17. Tradisi Taubat Bersama, taubat khusus bersama. Lain dengan Taubat di bulan Syuro, ini tobat khusus di bulan Romadlon, yang dituju itu kelengahan kita,” dawuh Syekh Muchtar. Beliau menjelaskan bahwa kelengahan ini muncul karena masyarakat cenderung melupakan fakta bahwa kemerdekaan Indonesia dan berdirinya NKRI terjadi di bulan Ramadhan.

Tradisi Hubbul Wathon Sejak 1960

Agenda Taubat Bersama Khusus ini merupakan pengembangan dari rangkaian Lailatul Mubarokah yang telah dilaksanakan secara konsisten sejak tahun 1960. Berawal dari kelompok kecil berjumlah 20 orang, kini ribuan jamaah terlibat aktif dalam gerakan yang mengusung doktrin Hubbul Wathon Minal Iman atau cinta tanah air bagian dari iman.

Melalui tradisi ini, Syekh Muchtar menekankan bahwa ibadah harus berjalan beriringan dengan literasi sejarah yang akurat. Ramadhan 1945 diposisikan kembali sebagai fondasi spiritual utama berdirinya bangsa Indonesia. Inisiatif ini memastikan bahwa nilai-nilai kemerdekaan tetap terjaga melalui ingatan yang kuat terhadap sejarah nasional dan spiritualitas yang mendalam. ***

Baca Juga :  Audiensi Jombang–Menbud Dorong Kajian Kebijakan Sejarah Bung Karno