Sabtu, Juni 13News That Matters

Rupiah Rp18.003: Impor Energi Berisiko Melebarkan Defisit APBN Rp200 Triliun

indonesiaforward.net — Kurs rupiah menembus level psikologis baru Rp18.003 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.05 WIB. Pelemahan kumulatif hingga 6,6% sepanjang tahun ini mengancam postur anggaran negara akibat membengkaknya beban impor pangan dan energi.

Kondisi fiskal diperparah oleh inflasi tahunan Mei yang melonjak ke angka 3,08% akibat kenaikan biaya distribusi logistik nasional. Pelemahan ini berisiko memperlebar target defisit APBN 2026 yang awalnya dipatok sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.

Permata Institute of Economic Research (PIER) merilis simulasi dampak makroekonomi terhadap ketahanan anggaran negara pada Juni 2026. Tambahan defisit APBN diperkirakan bisa menembus lebih dari Rp200 triliun jika rata-rata rupiah tertahan melemah dan harga minyak mentah dunia melonjak.

Tekanan anggaran dipicu oleh meroketnya biaya konversi impor minyak mentah ke mata uang rupiah yang merusak kalkulasi asumsi makro. Situasi ini memicu urgensi reformasi bauran kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter untuk menyelamatkan kapasitas belanja negara.

Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan besaran biaya stabilisasi kurs dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 19 Mei 2026. “Jangan kaget, turun sekitar 10 miliar dollar AS. Tapi jumlah intervensi ini baru spot, baru tunai,” ungkap Perry kepada legislatif.

Baca Juga :  Evaluasi Kebijakan Moneter: Mengukur Efektivitas Batasan Valas Baru BI

INDEF merekomendasikan pemerintah untuk memperketat kredibilitas pengelolaan anggaran demi memulihkan kepercayaan investor publik. Percepatan repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke perbankan domestik harus segera dieksekusi guna mencegah penurunan cadangan devisa lebih dalam. ***