Selasa, Juni 2News That Matters

Kebijakan Adaptasi Iklim: Mitigasi El Niño Godzilla 2026 di Pantura

indonesiaforward.net — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis laporan kebijakan publik terkait ancaman fenomena El Niño “Godzilla” yang diprediksi melanda Indonesia pada April hingga Oktober 2026. Laporan ini memberikan peringatan dini bagi pengambil kebijakan untuk segera mengamankan lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa dari risiko kekeringan ekstrem.

Prediksi model iklim global menunjukkan adanya anomali suhu signifikan di Samudra Pasifik ekuator yang berpotensi menurunkan curah hujan hingga 90 persen di wilayah selatan Indonesia. Fenomena ini memaksa pemerintah untuk mengevaluasi efektivitas cadangan pangan nasional pasca-defisit produksi beras yang mencapai 2,28 juta ton pada awal tahun 2024.

Langkah progresif diperlukan dalam manajemen sumber daya air irigasi guna mengantisipasi kenaikan suhu darat sebesar 1-2 derajat Celsius di Jawa dan Bali. Pemerintah dituntut untuk mengakselerasi program pompanisasi dan optimalisasi lahan produktif guna memitigasi dampak multi-sektor yang mengancam ketahanan pangan penduduk.

Evaluasi Strategi Ketahanan Pangan Nasional

Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menekankan urgensi pengawasan ketat terhadap wilayah Pantura Jawa sebagai jangkar distribusi beras nasional. Strategi ganda harus diterapkan untuk menangani kekeringan di selatan sekaligus risiko banjir akibat hujan ekstrem di wilayah Sulawesi dan Maluku.

Baca Juga :  Digital Weather for Traffic Dukung Mitigasi Hujan Lebat

“Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa,” ungkap Erma Yulihastin dalam pernyataan resminya pada 2 April 2026.

Inovasi Teknologi dan Manajemen Irigasi

Implementasi metode Alternate Wetting and Drying (AWD) diproyeksikan mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengorbankan produktivitas lahan. Kebijakan ini menjadi krusial mengingat data BNPB mencatat kerusakan lahan sawah akibat bencana iklim mencapai 176.693 hektar dalam kurun waktu 2010-2023.

Selain sektor pertanian, pemerintah juga memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan dari ancaman heat-related illnesses di wilayah urban dan perdesaan. Penguatan cadangan pangan melalui Bulog serta penyesuaian jadwal tanam menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga pangan selama puncak kekeringan di bulan Juli 2026.

Transformasi kebijakan ini diharapkan mampu memutus siklus ketergantungan impor beras setiap kali anomali El Niño terjadi. Penanganan El Niño “Godzilla” akan menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam membangun sistem pangan yang adaptif dan tangguh terhadap perubahan iklim global yang semakin tidak menentu. ***

Baca Juga :  Forensik Data Banjir Sumatera, Cuaca Ekstrem Melampaui Mitigasi