Rabu, Juni 3News That Matters

Refleksi 17 Ramadhan: Shiddiqiyyah Ulas Rahasia Spiritual Proklamasi RI

indonesiaforward.net — Momentum peringatan malam 17 Ramadhan tahun ini menjadi panggung pengungkapan sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Thoriqoh shiddiqiyyah menggelar Tasyakkuran Lailatul Mubarokah pada Kamis malam (05/03/2025) di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman, Jombang.

Acara yang dihadiri jamaah dari berbagai belahan dunia ini menyoroti benang merah antara kemenangan Islam di Perang Badar dan kemerdekaan Republik Indonesia yang sama-sama berakar pada kekuatan spiritual dan kejernihan batin.

Dalam mauidhotul chasanah yang disampaikan, terungkap bahwa penetapan tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah keputusan yang berdiri sendiri. Presiden pertama RI, Bung Karno, secara khusus meminta pertimbangan dari empat ulama Dzawil Bashoir yang memiliki ketajaman batin luar biasa.

Tokoh-tokoh tersebut antara lain Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Mu’thi, Kyai Achmad Basyari, dan Raden Sosrokartono. Pertimbangan para ulama ini menjadi kompas spiritual bagi Bung Karno untuk memproklamirkan kemerdekaan pada hari Jum’at yang penuh berkah.

Sinkronisitas Peristiwa 17 Ramadhan dan Hari Jum’at

Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menekankan bahwa tanggal 17 memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah peradaban. Perang Badar Kubro, yang menjadi titik balik kejayaan Islam, terjadi pada 17 Ramadhan dan jatuh pada hari Jum’at. Dalam peristiwa tersebut, 470 pasukan Muslim mampu menumbangkan 1.500 pasukan musyrikin.

Baca Juga :  Evaluasi Kebijakan Pengawasan Yayasan: Belajar dari Skandal Little Aresha

Kemenangan ini memiliki kesamaan frekuensi dengan Proklamasi RI yang juga jatuh pada hari Jum’at, membuktikan bahwa pertolongan Tuhan selalu hadir bagi mereka yang berjuang di jalan kebenaran.

Selain sebagai hari kemenangan, 17 Ramadhan juga diperingati sebagai waktu diturunkannya wahyu pertama Al-Qur’an melalui Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini menandai pengangkatan Muhammad SAW sebagai Nabi Rochmatan Lil ‘Alamin. Dengan pemahaman bahwa barokah adalah tetapnya kebaikan ketuhanan dalam sesuatu, Shiddiqiyyah mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai kebaikan tersebut agar tetap menetap dalam sanubari setiap anak bangsa.

Solidaritas Jamaah dan Doa untuk Negeri

Wujud syukur dalam acara ini juga ditunjukkan melalui aksi nyata sosial dan ekonomi. Panitia menyediakan 1.500 porsi makanan untuk berbuka puasa bersama seluruh jamaah yang hadir. Kekuatan kemandirian jamaah pun terlihat dari pengumpulan shodaqoh spontanitas yang menembus angka Rp 247.000.000.

Dana ini dialokasikan untuk menunjang gerak perjuangan organisasi dalam membangun karakter bangsa yang religius dan nasionalis.

Acara diakhiri dengan panjatan doa agar iman bangsa senantiasa ditetapkan, diberikan usia yang barokah, serta rezeki yang luas untuk kemakmuran rakyat. Melalui wasilah tasyakkuran 17 Ramadhan ini, diharapkan generasi masa depan Indonesia dapat terus meneladani kearifan para ulama dan ketegasan para pendiri bangsa dalam menjaga kedaulatan NKRI yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. ***

Baca Juga :  Revitalisasi Thoriqoh Shiddiqiyyah Perkuat Modal Sosial dan Spiritual Bangsa