Minggu, April 19News That Matters

MUI Prediksi Awal Puasa 2026 Berbeda, Umat Harus Dewasa

IndonesiaForward.net — Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menegaskan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia berpotensi besar mengalami perbedaan dan meminta seluruh umat Islam menyikapinya dengan sikap ksatria dan kedewasaan penuh.

Potensi perbedaan ini muncul karena adanya keragaman metode penetapan kalender yang digunakan ormas Islam. Sebagian pihak telah menetapkan awal puasa jatuh pada 18 Februari 2026 merujuk pada hisab dan kalender global. Sementara pihak lain masih menunggu hasil rukyatul hilal yang diprediksi baru memenuhi kriteria pada hari berikutnya.

“Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadhan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari ini. Karena menggunakan hisab sekaligus kalender global,” tegas Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Benturan Metode Hisab dan Imkan Rukyat

Kiai Cholil menjelaskan bahwa metode imkan rukyat yang digunakan pemerintah dan mayoritas ulama kemungkinan besar tidak akan melihat hilal pada Selasa sore. Secara teknis, posisi hilal diprediksi masih di bawah 3 derajat, sehingga tidak memenuhi syarat visibilitas yang disepakati oleh forum MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Baca Juga :  Inovasi Keamanan Siber: Menjawab Tantangan Zombie ZIP yang Mengecoh Antivirus

Kondisi ini menciptakan skenario dua tanggal mulainya ibadah puasa, yakni 18 Februari dan 19 Februari. Kiai Cholil meminta perbedaan ini tidak menjadi sumbu konflik yang merusak persaudaraan sesama Muslim. Persatuan nasional harus tetap tegak di atas perbedaan ijtihad tersebut.

Ukhuwah Islamiyah di Atas Perbedaan Fikih

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menekankan bahwa masalah ini murni wilayah khilafiyah fikr atau perbedaan pemikiran. Ia menginstruksikan masyarakat untuk tidak membawa isu ini ke ranah perpecahan politik atau sosial. Perbedaan ini justru harus menjadi momentum untuk memperdalam literasi ilmu falak.

“Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak,” sambungnya pada Senin (16/2/2026).

Data global menunjukkan Amerika Utara memulai puasa pada 18 Februari. Sebaliknya, wilayah Eropa, Australia, dan mayoritas negara Asia diprediksi baru memulai pada 19 Februari karena kendala visibilitas hilal. Di Indonesia, hasil final akan diputuskan melalui Sidang Isbat Kementerian Agama sore ini, meski Muhammadiyah sudah menetapkan Rabu besok sebagai awal Ramadhan.

Baca Juga :  Pemerintah Perkenalkan Buku Sejarah Nasional, Akademisi Dorong Keterbukaan

Kiai Cholil mengingatkan bahwa perbedaan adalah rahmat. Ia mengajak umat tetap fokus pada kualitas ibadah tanpa terganggu oleh debat teknis yang tidak produktif.